Memaparkan catatan dengan label puisi. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label puisi. Papar semua catatan
Sabtu, 7 Mac 2020
Jumaat, 6 Mac 2020
Menagih Belas
Saat derita menagih janji,
Terjelir lah kudrat menahan sabar,
Payah berharap pada telapak ,
Kudis dijilat tiadakan loya,
Masih dia merintih ingin belas,
Lalu mereka menerajang dengan senyuman,
Betah dia terus merayu ihsan,
Namun tiadakan dengar balas jawapan,
Maka tinggal dia rintih sendiri,
Lemas ditinggal dalam sepi.
Malangnya...
Datanglah belas dari sebuah poket,
Dirampas nya dia pada sekeping roti,
Tergopoh berkecai di dalam genggaman,
Amarah yang tiada bersuara,
Hanya bersisa di lantai busuk dan sejuk,
Maka rapat lututnya dipeluk,
Sendu yang tidak berlagu dan sunyi,
Dan malam itu perutnya kosong seperti semalam.
Sabda Kalam 2020
Sore 6 Mac
Temerloh, Pahang
Isnin, 18 November 2013
Cinta
Cinta itu sakti,
abdi maha peri disaksi,
tanpa sangsi memberi,
teguhan dedikasi tanpa henti,
diantara halusinasi dan imaginasi,
mengasing diri menjauhi realiti,
di atas rapuh ranting obsesi,
sabda kalam 2013
Isnin, 23 April 2012
jauh dari pangkal mati di hujung
derap yang makin sayup ,
menyusur lembah yang makin hitam,
gelumatnya menelan indera seluruh,
mungkin tiada lagi kan hasilnya ada,
namun diheret tetap kaki yang tempang,
sesat yang dibiarkan jauh,
tersampuk pada nampak banir jelas,
bertafakur tak bisa hadir jua cahaya,
terus dan terus
dimamah dan dipapas jelaga,
oleh bakar laku yang songsang,
halanya bertebar tujunya lenyap,
alam bagai menidakkan kuasa di antara,
korupsi berlengah di tengah pundak,
menangisi di dalam senyap bersuara sumbang,
apakah ada lagi maksud untuk ditanyakan,
payah lagi untuk dimenangkan ...
hendak dan mahu tiada putus,
sia-sia yang dikumpul bersimpul berat,
digalas ,dipikul semahunya malas,
walau carik karungnya berciciran kendongnya,
maka taatlah pada yang tiada,
berharaplah dari yang tiada nyata,
dah berjauhlah dari pangkal,
akhirnya matilah di hujung kesal...
ke mana
juang yang makin berjurang,
bertangguh di dalam sudut ,
teratur mencari kusut,
kesedaran yang kian alpa,
kesemuanya menjerut,
menikam belikat mengikat jiwa,
amarah kian membuak,
menipis antara syukur dan taqwa,
hilang keinsanan bertukarlah sifat,
ke tanah janji itu telah pasti,
tiada lagikan mungkin,
teraba kian buta jelas semakin,
rugi yang maha lagikan berhasil,
ke mana
Sabtu, 3 September 2011
sumpahan markisamu
telah aku ditikam bilah-bilah tajam,
diinjak dan dihujam tujuh bentala,
diinjak dan dihujam tujuh bentala,
lalu terbukalah rekah langit sembilan
menangisi hilang kelaut jawi,
bersamanya pusar-pusar angin barat mengutuk dan menyumpah ,
bergentayanganlah kesal dalam rintihan perihku,
berakhirlah kembara hayat ini tanpa mengenal hebat keagungan
tertinggal hanya derhaka dalam jenazahku,
nampak di sana bekas langkah-langkah duka,
dan puing-puing rindu lenyap hilang di dasar laut harapan,
padaku hanya haruman dari kuntuman bungamu,
yang tak pernah jadi milikku,
tanpa ku tahu paut dan sulurnya markisamu,
memaut aku tinggal mati kedaratan..
Sabda Kalam 2011
Selasa, 24 Mei 2011
danau hijau
..dari rentang gebu putih yang menyelimuti lembah ini,
menikam sejuk menusuk ke jasadnya,
tertinggallah sepi dipangkal banir-banir basah,
berlagu beburung menemankan dengan lagu,
bersamanya harum bunga memekar senyum kelopak,
dihujung lembah megah berdiri gunung-gunung memandang,
di sini dia mencari asal dan pengakhir nasib,
berkira-kira di atas hamparan lembab dedaun mati ,
di sinilah di danau hijau dia sendiri,
memanggung tubuh teringgal punca..hanya dia.
tertinggallah sepi dipangkal banir-banir basah,
berlagu beburung menemankan dengan lagu,
bersamanya harum bunga memekar senyum kelopak,
dihujung lembah megah berdiri gunung-gunung memandang,
di sini dia mencari asal dan pengakhir nasib,
berkira-kira di atas hamparan lembab dedaun mati ,
di sinilah di danau hijau dia sendiri,
memanggung tubuh teringgal punca..hanya dia.
Sabtu, 14 Mei 2011
puisi pendek
hirau yang tak bisa kan hilang,
bila seru angin datang menjemput,
maka bangkit alis-alis yang terpejam,
menjengah cahaya yang dulu jarang,
di sana bahgia tersenyum menanti
lambaian takbir bertahmid mengusir angan,
sayu pula dengar hati,
sahut pula langkah kaki,
jerit kanan berjuang kiri,
tinggal selesa menangis sendiri,
kering lidah basah berganti,
bila seru angin datang menjemput,
maka bangkit alis-alis yang terpejam,
menjengah cahaya yang dulu jarang,
di sana bahgia tersenyum menanti
lambaian takbir bertahmid mengusir angan,
sayu pula dengar hati,
sahut pula langkah kaki,
jerit kanan berjuang kiri,
tinggal selesa menangis sendiri,
kering lidah basah berganti,
Jumaat, 22 April 2011
Khamis, 7 April 2011
harapan kaca
| http://www.desktopwallpaperhd.com/wallpapers/3/3282.jpg |
jatuh berderai harapan kaca bersilau rasa,
menjilat pandangan pada kesunyian yang terpecah,
hening menghilang meruap pula derap kata,
sekoyong-koyong tubuh muncul di balik kabus,
menghulur kudus salam bersama bicara,
sambutnya dengan malas mengah berdebar dada,
di sini mulai sesak dengan jiwa-jiwa,
cuba untuk merdeka dari perangkap suasana,
harumnya dengan bunga hati mulai memekar,
ternampak depan mereka kembara untuk dimulai,
hilang lah sifat sendiri-sendiri bermandi basah rindu,
mesra mula hanyut di dalam hangat kembara,
namun semuanya hanyalah lembaran angan di dalam pikir
yang lama usang..
sabda kalam 2011
Selasa, 15 Mac 2011
'kamu'
| bersumber dari: http://www.123rf.com |
suria menyapa dengan salam,
tidakkah kau rasa hangatnya?
kala binar tengahari menyengatmu,
datang hidang dikunyahi,
hilang haus dibasahi,
namun masih lagi belum puas?
kala rendang sore menyamani,
lembayung rahmat memayungi,
bersama saku yang penuh terisi,
namun tiada syukur singgah di dalam diri,
tangismu hanya kala perih,
ketawa hanya bila kenyang,
lupamu kala waktu berhembus lalu,
ingatlah maut yang kerap bertandang,
pasti..
Isnin, 14 Mac 2011
rias permata
jurang nan lepas memapas hilang mentari pagi,
jelas makin dalam dihimpit jerit-jerit aneh,
memaksa segenap nyawa membunuh setiap rasa,
di pikul hanya kering hati berkepil mati,
tinggal sisa-sisanya di hadiran gerbang masa,
tiadakan lagi lagu tiung berlidah emas menyanyi sakti,
putuslah kita mencari sekadar mimpi,
dirias malam hanya sumbing purnama,
yang kelat tersenyum menyahut teriak pungguk,
ingin sahaja memahat semula berhala ini,
biarku cantas tirus wajahnya,
tak payah nak kuhadapkan segalanya,
biar nyata, biar sahaja,
tapi diri masih asyik ,
merindukan setiap halus kilau berlian di tengah lapang,
kudung pula capai tangannya,
susah berkisah, payah dan jarang
sekelumit rasa di celah rotan berduri,
sesatnya makinlah nyata memaksa hingga
bisa amuk seluruh negeri,
bicara ini makin terasing dan jauh,
berpusar aksaranya menjerat sekalian makna..
Sabda Kalam Hakcipta Terpelihara
14 Mac 2011
Sabtu, 5 Mac 2011
gigil tawa
prinsip apa?
arghhhh....cuma bermegah!
yang lain makin hanyut dan ganyut,
disebat jerat kata,
kelat berpijar pahitnya,
ditangkap, diserkap, dihendap,
semuanya beragenda,
jerit perit mereka dikira derhaka,
uohh..!!!hampas semua..
mahu temboloknya saja di isi,
hijau muntah itu tidak dipeduli,
bangsat di angkat,
jalang dijulang,
murni insani jadi hapak,
kader-kadernya makin panjang berbaris,
tulus menjerut sekalian leher sahaya,
eearghh!!
tekak ini tak bisa lagi menelan,
busuk bedung yang reput itu,
selayak di bakar , dihenyak tujuh bentala
wajah mereka,
AYUH..!!!
kita asah saja parang cangkul dan sabit,
bersatu di bawah langit ini,
bersatu di dalam satu langkah,
mencekik gebu leher-leher mereka,
biar mereka tahu ..
siapa akan gigil tawa akhirnya..
Selasa, 22 Februari 2011
pantun 3
| http://www.etsy.com/error.php?error_id=8 |
makan bersama nasinya panas,
janganlah hidup banyak mengeluh,
takkan hatimu sepenuhnya puas.
terbang enggang terbang tempua,
singgah berpasang di dahan jati,
jagalah sopan di depan yang tua,
barulah nampak baiknya pekerti
dikejar layuh ditambat hati,
dijerat pinang mabuk semarang,
malar gayuh berkebat mati,
berkerat hilang berhabuk malang
Isnin, 21 Februari 2011
subuh
![]() |
| http://kekoh.blogspot.com/2011/01/tazkirah-subuh-fadhilat-berjemaah.html |
dinginnya meratah kulit,
sekujur tubuh datang menyapa,
di jemput panggilan sayu mentari,
lalu berdebur segar ...
menyiapkan diri dengan wuduk
dalam khusyuk sempurna,
sayup menyusup di tengah itu
laungan takbir,
bersegera dia menyudahkan,
di tinggal sumur sendiri lagi
rusuk
| sumber: http://clutzgallery.com/blog/?p=219 |
kelana yang sudah berakhir,
sedia di palu dan di tanya,
barulah hinggap segala sesal,
mana mungkin bisa kembali,
segalanya telah di janji,
merayap merangkak segenap penjuru,
mengutip hutang di hujung sini,
menyatulah rusuk memekik seksa
racun
parahnya terus menggigit,
jeritnya terus perih,
gagahnya bertambah layu,
mengiringlah kelu yang beku,
paut sadarnya kian luput,
penghujung itu makin dekat,
amat dekat..
maka datanglah bertamu 'dia',
tiada seri hanyalah ngeri,
maka muntahlah segala resah,
berhambat mengikut takut,
pantas tangan itu menjerut,
ketat dan semakin menyiat,
mengelepar bersama tubuh,
meraung pekak dan diam
akhirnya.........
jeritnya terus perih,
gagahnya bertambah layu,
mengiringlah kelu yang beku,
paut sadarnya kian luput,
penghujung itu makin dekat,
amat dekat..
maka datanglah bertamu 'dia',
tiada seri hanyalah ngeri,
maka muntahlah segala resah,
berhambat mengikut takut,
pantas tangan itu menjerut,
ketat dan semakin menyiat,
mengelepar bersama tubuh,
meraung pekak dan diam
| sumber: http://ekim.aminus3.com/image/2006-09-04.html |
kita
| http://www.flickr.com/photos/darrellg/1473844970/ |
di sini kamu,
kerana ini,
ke sanalah kamu,
mengapa?
itu yang kerap,
bagaimana?
ini amat jarang,
tetapi kita,
memang suka,
harusnya kita,
terus menerima,
di mana?
ada lagi mungkin,
kemana?
perginya lagi kita.
siapa?
kalau bukan kamu,
siapa lagi ?
butakah kita.
Isnin, 24 Januari 2011
pantun
| sumber gambar: http://relationshipglam.wordpress.com/2010/11/17/harrrrdship/ |
erat langkah bertapak bekas,
pencak kilat berbuku sifat,
tantanglah alam bersangga limas,
berkerak dasarmu memecah larat,
Khamis, 20 Januari 2011
BISKUT KERING
dalam pikirku yang masih mundar mandir,
kesekian ku carikan pelita ilham,
masih tak kutemukan, payah mula berteman,
keserabutan mengayuh di segenap ubunku,
di tengah itu aku dengar keroncong perutku,
kekosongan yang pinta dipenuhi,
maka penasaran dengan segala kudrat,
merangas ke setiap ruang,
mencari sesuatu untuk ku kunyah,
dan di situ kenampakan sebuah bekas,
lucunya hatiku mengharap pada dia,
sekaliannya sudah terarah ke situ,
memang payah berilham dalam senandung ,
nafsu yang berlagu asyik,
langsung sebaris kasar dan kering ,
dalam kedap balutanku keluarkan,
terusan disorong ke mulut yang sudah tidak sabar,
gopoh melahap keping-keping biskut kering,
rangup dan nikmatnya mula singgah bersama,
gemerlap sumbunya pelita ilhamku,
sabda kalam 2011
Langgan:
Catatan (Atom)


